Powered By Blogger

Wednesday, January 11, 2012

Wujudkah??




Sudah lama aku perhatikan kamu.
Sejak kecil. Sejak di bangku sekolah lagi.

Pakaianmu bukan seperti biasa.
Tutur bicaramu juga. Jalanmu juga begitu.
Peribadimu terjaga. Citra bidadari syurga.
Kerana apa? Kerana...

Di saat orang lain keluar bersama yang bukan mahram,
Kamu berada di rumah bersama keluargamu.

Di saat orang lain bertepuk tampar lelaki perempuan,
Kamu bergurau dengan sahabat muslimatmu.

Di saat orang lain menggilai music barat dan Kpop,
Kamu tetap dengan zikir dan tafsirmu.

Di saat orang lain memuja artis-artis,
Kamu tetap dengan Nabi Muhammad sebagi idola.

Di saat orang lain bergelak ketawa besar,
Kamu hanya tersenyum sendiri.

Di saat orang lain bertudung fesyen pelbagai,
Kamu tetap dengan tudung labuhmu.

Di saat orang lain dengan make up tebal seinci,
Kamu tetap syukur dengan anugerah semulajadi.

Di saat orang lain bersama perfume mewangi,
Kamu tahu bagaimana hukumnya dari sudut syarie,

Di saat orang lain menggayakan short sleeve,
Kamu tetap tegar memilih long sleeve.

Di saat orang lain menyinsingkan lengan kerana kerimasan,
Kamu memakai handsock untuk menjaga ‘perhiasan’.

Di saat orang lain berkaki ayam bermain air di pantai,
Kamu tetap dengan stokinmu walau kamu tahu ia akan basah.

Di saat orang lain sibuk lagho berfacebook,
Kamu tetap sibuk mengupdate blog dakwahmu.

Di saat orang lain sibuk dengan urusan-urusan dunia,
Kamu tetap dengan kerja dakwahmu.

Di saat orang lain ingin menjadi orang lain,
Aku tahu, kamu tetap kamu seperti dulu.

Sungguh, aku akan menjadikanmu bidadariku
Sebagai penemanku di dunia dan syurga abadi.

sumber: harithfaisal.blogspot.com

***********************

saya pulangkan persoalan ini pada pembaca entry kali ini..
sama ada masih wujud muslimah seperti ini pada akhir zaman ini..
benar, kita perlu mengejar ke arah kesempurnaan..

semua orang tidak akan pernah sempurna..
tetapi ianya TIDAK SALAH untuk menuju kearahnya..

Bukannya Allah tidak tahu penatnya kita bertatih mencari Dia
Bukannya Allah tidak tahu sakitnya hati saat kita mahu berubah, kejahilan terus menikam kita..
Bukannya Allah tidak tahu segala keinginan kita untuk menjadi hambaNya yg solehah dan mukminat..
Bukannya Allah tidak tahu usaha kita...
Bukannya Allah tidak tahu yang kita mahukan ketenangan yang hakiki lantaran dosa semalam menghantui diri kita..
Dan bukannya Allah tidak tahu kita mahukan CINTA DIA..
Malah Allah lebih-lebih tahu segala isi hati kita!
Dan DIA lebih-lebih tahu akan kemampuan kita!
Teruskan langkahmu srikandi mujahidah..teruslah usahamu dalam menempa nama disisi Allah dan para malaikat.....
Allah LEBIH TAHU!!




Monday, January 9, 2012

Tolong jangan pergi ye perasaan ini...

  T.E.N.A.N.G

Perasaan yang selayaknya diperoleh bagi hati yang khusyuk yang kepadaNya.......
Saat cinta sedang bertasbih
Memujuk segala keresahan dan kekhuatiran dengan bertaltilkan namaNya
Mengapa Dia mencampakkan 'rasa' ini?
Kerana kita hambaNya,tidak pernah penat dari meminta kepadaNya
Melewati masa dan ketika,pagi petang siang dan malam
Andai kita serukan pada manusia, apakah kemampuan mereka?
Allahu Allah..tempat selayaknya untuk kita merintih apatah lagi merayu meminta padaNya
Dia Maha Kaya,Maha Mendengar
Pasti dan yakinlah Dia memberi apa yang kita perlukan

Duhai rasa yang tenang
Jangan engkau keluar dari dalam lubuk hatiku ini
Teruslah engkau hidup di dalam segenap hatiku
Aku tahu engkau datang dari Dia
Jangan Engkau ambil dia dari dalam hatiku
Biarkan dia menguasai hatiku
Kerana aku takut andai dia pergi,hanyutlah aku tanpa petunjukMu...

Tenanglah engkau di dalam hatiku yang rapuh ini
Agar ianya kembali tegar bersama iman dan taqwa...
Allahu Allah.......




Firman Allah:
Dan (sebagai bersyukur) berkatalah mereka: “Segala puji tertentu bagi Allah, yang telah menghapuskan perasaan dukacita dari kami; Sesungguhnya Tuhan kami Maha Pengampun, lagi sentiasa memberi balasan yang sebaik-baiknya (kepada orang-orang yang taat).Tuhan yang telah menempatkan kami di tempat tinggal yang kekal, dengan limpah kurniaNya semata-mata. Kami tidak akan merasa penat lelah di situ, dan Kami juga di situ tidak akan merasa letih lesu”.
 (QS 35: 34 & 35)

Sunday, January 8, 2012

10 cara meraih Cinta Allah

Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan beberapa hal untuk mendapatkan maksud tadi dalam kitab beliau Madarijus Salikin.
Pertamamembaca Al Qur’an dengan merenungi dan memahami maknanya. Hal ini bisa dilakukan sebagaimana seseorang memahami sebuah buku yaitu dia menghafal dan harus mendapat penjelasan terhadap isi buku tersebut. Ini semua dilakukan untuk memahami apa yang dimaksudkan oleh si penulis buku. [Maka begitu pula yang dapat dilakukan terhadap Al Qur’an, pen]
Keduamendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan ibadah yang sunnah, setelah mengerjakan ibadah yang wajib.  Dengan inilah seseorang akan mencapai tingkat yang lebih mulia yaitu menjadi orang yang mendapatkan kecintaan Allah dan bukan hanya sekedar menjadi seorang pecinta.
Ketigaterus-menerus mengingat Allah dalam setiap keadaan, baik dengan hati dan lisan atau dengan amalan dan keadaan dirinya. Ingatlah, kecintaan pada Allah akan diperoleh sekadar dengan keadaan dzikir kepada-Nya.
Keempatlebih mendahulukan kecintaan pada Allah daripada kecintaan pada dirinya sendiri ketika dia dikuasai hawa nafsunya. Begitu pula dia selalu ingin meningkatkan kecintaan kepada-Nya, walaupun harus menempuh berbagai kesulitan.
Kelimamerenungi, memperhatikan dan mengenal kebesaran nama dan sifat Allah. Begitu pula hatinya selalu berusaha memikirkan nama dan sifat Allah tersebut berulang kali. Barangsiapa mengenal Allah dengan benar melalui nama, sifat dan perbuatan-Nya, maka dia pasti mencintai Allah. Oleh karena itu, mu’athilah,  fir’auniyah, jahmiyah (yang kesemuanya keliru dalam memahami nama dan sifat Allah), jalan mereka dalam mengenal Allah telah terputus (karena mereka menolak nama dan sifat Allah tersebut).
Keenammemperhatikan kebaikan, nikmat dan karunia Allah yang telah Dia berikan kepada kita, baik nikmat lahir maupun batin. Inilah faktor yang mendorong untuk mencintai-Nya.
Ketujuh-inilah yang begitu istimewa- yaitu menghadirkan hati secara keseluruhan tatkala melakukan ketaatan kepada Allah dengan merenungkan makna yang terkandung di dalamnya. 
Kedelapanmenyendiri dengan Allah di saat Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir untuk beribadah dan bermunajat kepada-Nya serta membaca kalam-Nya (Al Qur’an). Kemudian mengakhirinya dengan istighfar dan taubat kepada-Nya.
Kesembilanduduk bersama orang-orang yang mencintai Allah dan bersama para shidiqin. Kemudian memetik perkataan mereka yang seperti buah yang begitu nikmat. Kemudian  dia pun tidaklah mengeluarkan kata-kata kecuali apabila jelas maslahatnya dan diketahui bahwa dengan perkataan tersebut akan menambah kemanfaatan baginya dan juga bagi orang lain.
Kesepuluhmenjauhi segala sebab yang dapat mengahalangi antara dirinya dan Allah Ta’ala.

Doa Nabi Daud a.s :

Rasulullah s.a.w bersabda: “Di antara doa Nabi Daud ’alaihissalam ialah: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu cintaMu dan cinta orang-orang yang mencintaiMu dan aku memohon kepadaMu perbuatan yang dapat menyampaikanku kepada cintaMu. Ya Allah, jadikanlah cintaMu lebih kucintai daripada diriku dan keluargaku serta air dingin.”
Dan bila Rasulullah s.a.w  mengingat Nabi Daud ’alaihissalam beliau menggelarinya sebaik-baik manusia dalam beribadah kepada Allah.” 
(HR Tirmidzi 3412)

Doa Rasulullah s.a.w:


Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu cintaMu, dan cinta orang yang mencintaiMu, dan kecintaan terhadap amal yang mendekatkan diriku kepadaMu.

KeampunanMu ku pohon, andai ada selainMu yang lebih utama dalam hatiku..






Tuesday, January 3, 2012

Sabarlah Mujahidku...

Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Mengasihani

Semoga bait-bait ini menjadi harapan dan bukti kepada Si Dia..

Bukan aku tidak mahu menerima lamaranmu, lantaran kerana aku menyedari akan hakikat diriku..terlalu banyak kelemahan dalam diriku yang masih tersimpan,bagaimana mungkin aku bisa menjadi mujahidahmu jika diriku masih lemah..bagaimana mungkin aku bisa menguatkanmu jika diriku masih belum kuat..sungguh,aku masih mencari dan membina kekuatan diriku dengan akhlak Islami..kerana aku tahu,dengan tertegaknya Islam di dalam diriku,maka aku juga mampu untuk menegakkan Islam di dalam bait Muslim + Dakwah + Haraki kita.Bukankah kita mahukan sedemikian?

Untuk pengetahuan dirimu, aku tidak mahu menjadi mujahidah yang hipokrit. Ketahuilah, masih banyak sifat-sifat mazmumah di dalam batang tubuhku ini.. Izinkanlah aku untuk menyucikannya terlebih dahulu agar anak-anak kita tidak terpalit dengan sifat ini. Aku juga semakin merasakan bahawa hatiku ini masih mati kerana terlalu cintakan dunia. Astaghfirullah.. dahulunya, aku merasa manisnya imanku, tetapi semakin hari semakin pudar dan aku tenggelam seketika, namun aku sedar tidak selamanya aku membiarkan hatiku ini hidup dengan kesesatan..maka,aku nekad untuk menghidupkannya semula..untuk pengetahuan dirimu, aku sedang memperbaiki hubungan yang lebih inteam bersama Si Dia..aku harap engkau tidak cemburu..Si Dia lebih aku perlukan saat ini..bukan dirimu.. alhamdulillah,Si Dia membuka jalan bagiku..aku sedang menjahit kembali hati ini agar kembali khusyuk padaNya seperti sebelum ini.. izinkanku aku untuk mengisi segenap ruang di dalam hatiku ini dengan CintaNya.. aku yakin,cinta padamu pasti terbuka ruang juga lantaran cintaNya yang mengizinkan kehadiranmu untuk mengetuk pintu hatiku...



Untuk mujahidku, aku kini sedang sibuk untuk membina diriku dengan sifat-sifat mahmudah..aku berusaha sedaya upaya untuk menjaga mutabaah 'amal diriku..inilah cara untuk menjaga momentum iman di dalam hatiku agar tidak tersungkur semula dalam perjalanan meniti kehidupan yang penuh dengan mehnah dan tribulasi..aku khuatir andai aku benar-benar tersungkur dan terus tenggelam serta tidak mampu bangkit kembali..

Mujahidku, izinkanku aku untuk memberi sumbangan pada saudara-saudaraku kerana aku tidak tahu jaminan apakah yang engkau boleh berikan padaku apabila kita telah bernikah nanti..aku khuatir andai suatu hari nanti engkau tidak mengizinkan aku untuk bergiat aktif dalam lapangan dakwah..aku khuatir andai aku futur di pertengahan jalan..maka, berilah aku sedikit masa untuk memberi manfaat pada agamaku.. atau mampukah engkau untuk menjadi suami kedua pada perhubungan kita? kerana aku lebih memilih suami pertamaku iaitu untuk syahid di jalanNya..ketahuilah,mujahidahmu ini terlau cintakan jalan dakwah, terlau rindukan syahid dan ingin melihat wajah Si Dia di jannahNya kelak..dan ketahuilah,sebenarnya dia tidak mahu sendirian di syurga kelak,mujahidahmu ini ingin bersamamu untuk terus memperjuangkan cinta kita.. kerana bagiku, lebih dari cukup andai Allah memilih kita untuk sama-sama mendiami syurgaNya..kerana hakikat cinta itu lahirnya dari Adam dan Hawa di dalam syurgaNya..

Aku kini sedang bertatih untuk mengejar Si Dia lebih darimu..aku pinta darimu untuk engkau tinggalkan aku seketika,berilah aku sedikit lagi kesempatan untuk aku memperbaiki diriku..dan aku ingin engkau juga memanfaatkan masa dan kesempatan yang ada ini untuk engkau memperbaiki imanmu, memperbaiki amalan dirimu..keran ketahuilah, dunia ini hanya persinggahan dan kita ada hari akhirat untuk kita dihisab oleh pencipta cinta kita..marilah sama-sama kita menegakkan Islam di dalam diri kita terlebih dahulu agar dapat kita sama-sama mentarbiyyah bakal generasi kita dengan wajah Islam yang sebenar.. ketahuilah mujahidku, pernikahan kita adalah jambatan untuk kita membina Daulah islamiyyah yang telah runtuh pada 1924M suatu ketika dahulu.malu rasa dihati andai kita bukanlah tangan-tangan yang bertungkus-lumus untuk sama-sama memenangkan Islam walhal kita sudah sedia maklum bahawa janji Allah itu pasti yang Islam tetap akan menang..

akhir kalam,bersabarlah mujahidku..aku yakin ianya pasti berlaku seiring dengan perjalanan masa dan umur kita..semoga Allah menyatukan hati kita dengan redhaNya..aku yakin pasti berlaku!


Monday, January 2, 2012

::Tinta dari hati untuk saudara POLIS::


Assalamualaikum warahmatuAllahi wabarakatuhu,
Terlebih dahulu, pohon kemaafan jika warkah ini terbuka. Saya harap ia dapat dibaca oleh semua. Jika ada kebaikan, ambillah darinya. Jika tidak, campaklah ia ke tepi dan lupakan sahaja. Ia hanya satu coretan dari seorang rakyat bawahan. Tanda cinta dan kasih kepada saudara yang saya lihat tercegat di segala penjuru negara atas tanggungjawab menjaga keamanan kita semua. Mata memandang, hati merintih dan berdoa agar tugasan saudara benar-benar diberikan pahala di sisi Tuhan dan diiktiraf di sisi rakyat.

Tugas Mulia
Saudaraku anggota polis,

Kerja polis adalah satu kerja yang mulia kerana menjaga keamanan dalam negara. Penat lelah anggota polis dalam memastikan negara kita aman dan adil adalah pahala yang amat besar di sisi Allah jika pengamalnya jujur dan ikhlas. Sepatutnya, tiada seorang pun rakyat yang cintakan keadilan dan keamanan akan membenci polis. Sebaliknya, perasaan fitrah; sayang dan menghargai akan tertanam dan mekar sebaik sahaja mendengar nama polis, melihat anggota atau apa sahaja perlambangan polis. Itulah perkara sewajarnya berlaku.

Saudaraku anggota polis,

Tugas seorang anggota polis -sebelum tugasan kenegaraan- sebenarnya adalah tugasan yang diperintahkan oleh Allah dan RasulNya iaitu ‘Menyuruh Kebaikan, Mencegah Kemungkaran’. Itu moto asal pasukan polis. Sekalipun, tumpuan terbanyaknya kepada bahagian kedua iaitu ‘Mencegah Kemungkaran’. Hakikatnya, polis berperanan menyelamatkan masyarakat dari kemurkaan Allah dengan dipastikan setiap penzalim akan dihalang, dicegah dan dihukum. Jika itu tidak berlaku, masyarakat akan porak peranda dan menerima hukuman dari Allah. 

Allah berfirman: (maksudnya):

“Telah dilaknat mereka yang kufur daripada Bani Israil melalui lidah Daud dan Isa bin Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka menderhaka dan selalu menceroboh. Mereka sentiasa tidak berlarang (sesama sendiri) perbuatan mungkar yang mereka kerjakan. Demi sesungguhnya amatlah buruknya apa yang mereka telah lakukan. (Surah al-Maidah, ayat 78-79).

Nabi s.a.w pula bersabda:
“Sesungguhnya manusia apabila melihat orang zalim, namun tidak menghalang tangannya, hampir Allah akan meliputi mereka dengan hukumanNya” (Riwayat Abu Daud, al-Tirmizi dan al-Nasai dengan sanad yang sahih).

Kami sebagai rakyat mengucapkan jutaan terima kasih kepada pihak polis yang telah menyelamatkan masyarakat dari kemurkaan Allah, kezaliman dan kerosakan.

Bahaya Kuasa
Saudaraku anggota polis,

Namun, dalam masa yang sama, bidang tugas dan kuasa saudara yang menghalang kezaliman itu jika disalahgunakan boleh memberikan kesan yang sebaliknya. Ia boleh bertukar dari melindungi yang tidak bersalah kepada menginayainya, menghalang yang zalim kepada memberi peluang kepadanya, memberi hak kepada yang berhak kepada merampas hak dari tuannya. Jika itu berlaku, rosaklah masyarakat, hilanglah neraca keadilan, bermegah si zalim, kesakitanlah yang ditindas. Lantas, kebencian akan merebak, kepercayaan akan hilang dan saudaraku polis yang sepatutnya disayangi menjadi pihak dimusuhi, dibenci dan diragui.

Saudaraku anggota polis,

Ingin saya sebut di sini suatu tazkirah yang harapnya boleh memberikan manfaat kepada semua, khususnya mereka yang berkuasa seperti saudara. Saudaraku, kezaliman itu adalah suatu racun. Ia bukan sahaja menyakitkan yang dizalimi, tetapi suatu hari akan membawa sengsara, bahkan mengorbankan si zalim itu sendiri. Pada hari kita memukul orang yang tidak bersalah, melukai atau menfitnahnya, kita mungkin rasa selamat di balik peruntukan kuasa yang ada. Mungkin juga rasa selamat di balik pakaian lengkap kita yang mungkin gagal mangsa mengenali pelakunya.

Namun Tuhan tidak lupa. Akan ada harinya yang menanti kita di hadapan. Tangan yang memukul orang lain dan kaki yang menendang mangsa itu tidak akan terpadam catatannya sehingga kemaafan diberikan. Ketika saudara pulang ke rumah berjumpa keluarga, si mangsa mendongak ke langit mengadu kepada Tuhan Yang Maha Berkuasa. Dengarlah baik-baik apa yang yang disabdakan 

Nabi s.a.w:
“Takutlah kamu doa orang yang dizalimi, sesungguh antaranya dengan Allah tiada sebarang hijab (penghalang)” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat Ahmad, baginda bersabda:

“Takutlah kamu doa orang yang dizalimi, sekalipun dia seorang yang jahat. Kejahatannya itu bagi dirinya” (hadis ini dinilai hasan oleh al-Albani).

Dalam riwayat Ahmad yang lain:
“Takutlah kamu doa orang yang dizalimi, sekalipun dia seorang yang kafir kerana ia tidak ada hijab (penghalang untuk Allah menerimanya). (hadis ini dinilai hasan oleh al-Albani).

Allah Tidak Lupa
Saudaraku anggota polis,

Tiada siapa antara kita yang dapat menyelamatkan dirinya dari hukuman Tuhan. Seseorang mungkin telah melupai orang yang dizaliminya, atau si mangsa juga mungkin terlupa, atau pergi menemui Ilahi terlebih dahulu. Namun doanya tetap hidup. Akan ada waktu, ia tetap datang bertandang dalam kehidupan si zalim; meragut kebahagiaannya, ketenteraman hidupnya dan mencampakkan derita dalam pelbagai warna dan rupa. Mungkin si zalim ketika itu terpinga dan bertanya ‘apakah salah saya?’. Dia terlupa bahawa Tuhan tidak lupa atas kezalimannya, di dunia dan akhirat sana.

Dunia Sementara
Saudaraku anggota polis,

Dunia ini sementara. Setiap kita akan ada hari akhirnya. Akan berakhirlah sebuah kehidupan dan bermulalah mahkamah keadilan Tuhan. Tiada kuasa yang dapat membela, tiada pembesar yang dapat berkata. Semua tunduk menunggu balasan.

 Firman Allah (maksudnya):
“Dan janganlah kamu menyangka bahawa Allah lalai akan apa yang dilakukan oleh orang-orang yang zalim; sesungguhnya Dia hanya melambatkan balasan mereka hingga ke suatu hari yang ketika itu terbeliak kaku pemandangan mereka, (kerana gerun gementar), mereka terburu-buru (menyahut panggilan) sambil mendongakkan kepala mereka dengan mata yang tidak berkelip, dan hati mereka yang kosong (kerana bingung dan cemas)”. (Surah Ibrahim 42-43).

Saudaraku anggota polis,

Sekali lagi pada hari itu si zalim akan bertemu dengan semua mereka yang telah dimangsakan, di hadapan mahkamah yang Maha Adil. Tiada bukti yang dapat disembunyikan, diputarbelit dan ditipu kepada masyarakat manusia yang berkumpul ketika itu. Tiada media yang boleh diperguna dan tiada kuasa kerajaan yang boleh melindunginya. Adil seadil-adilnya. 

Bak kata Nabi s.a.w:
“Segala hak akan dibayar kepada empunya pada Hari Kiamat, sehinggakan akan dibalas untuk biri-biri yang bertanduk atas perbuatannya ke atas biri-biri yang tidak bertanduk” (Riwayat Muslim).

Sabda baginda juga :

“Sesiapa yang ada padanya kezaliman terhadap saudaranya (muslim yang lain); seperti terhadap maruah dan selainnya, mintalah halal pada hari ini sebelum tiba waktu yang tiada dinar dan dirham (tiada harta iaitu pada Hari Kiamat). Sekiranya baginya kebaikan (amalan soleh) maka akan diambil darinya dengan kadar kezalimannya. Jika tiada baginya kebaikan, maka akan diambil dosa orang yang dizalimi lalu ditanggung ke atasnya” (Riwayat al-Bukhari).

Nasihati Hasan al-Basri
Saudaraku anggota polis,

Saya tahu, kadang-kala ada keadaan yang sukar sebagai anggota polis yang terpaksa melaksanakan arahan ‘atasan’. Maka, mungkin ada yang berkata ‘kami hanya menjalankan tugas’. Sudilah saudara mendengar nasihat tokoh Islam yang agung al-Imam Hasan al-Basri r.a. kepada Gabenor Iraq dan Khurasan iaitu ‘Umar bin Hubairah. Ketika itu zaman pemerintahan Khalifah Yazid bin Abdul Malik. Kata ‘Umar bin Hubairah:

“Sesungguhnya khalifah Yazid bin Abdul Malik kadang-kala menyuruhku melaksanakan perkara yang aku rasa tidak puas hati dari segi keadilan. Apakah jika aku melaksanakannya menjadi sutu kesalahan di sisi agama? Kata Hasan al-Basri: “Wahai Umar bin Hubairah! Takutlah Allah mengenai Yazid, jangan engkau takutkan Yazid mengenai Allah. Ketahuilah sesungguhnya Allah azza wajalla dapat menghalang Yazid daripada bertindak ke atasmu, tetapi Yazid tidak dapat menghalang Allah daripada bertindak ke atasmu.

Wahai ‘Umar bin Hubairah! Sesungguhnya akan turun kepadamu malaikat yang bengis dan keras, dia tidak akan menderhakai apa yang Allah perintahkannya. Dia akan mengambil engkau dari tempat dudukmu ini, dan memindahkan engkau dari istanamu yang luas, ke kubur yang sempit. Di sana tiada Yazid, hanya yang ada amalanmu yang menyanggahi Tuhan Yazid.

Wahai ‘Umar bin Hubairah! Sekiranya engkau bersama Allah dan ketaatan kepadaNya, ia boleh menghalangmu dari kejahatan Yazid di dunia dan akhirat. Jika engkau bersama Yazid dengan menderhakai Allah, sesungguhnya Allah akan menyerahkanmu kepada Yazid. Ketahuilah wahai ‘Umar bin bin Hubairah! Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam menderhakai Pencipta”. Maka menangislah Gabenor ‘Umar bin Hubairah”. (rujukan: Mir at al-Jinan wa ‘Ibrah al-Yaqzan)

Saudaraku anggota polis,

Kita boleh bertugas kepada sesiapa pun, tetapi jangan lupa tanggungjawab kita di hadapan Allah. Tiada cacatnya menjadi anggota polis. Saudara bukan musuh rakyat. Sebaliknya, saudara diperlukan rakyat. Apa yang cacat dan menimbulkan kebencian awam adalah tindakan kita sendiri jika menyalahi prinsip-prinsip keadilan dan keamanan. Jika itu tidak berlaku, sayang dan cinta rakyat tertumpah kepada saudara.
Ingatlah kata-kata Abu Bakar al-Siddiq: “Benar adalah amanah, bohong adalah khianat”. Jika saudara benar, rakyat sayang, Allah juga sayang. Kedamaian jiwa pun menjelang. Jika saudara bohong rakyat benci, Allah juga benci. Rezeki tidak halal, hidup tidak bahagia.

Saudaraku anggota polis,

Inilah pandangan seorang rakyat marhaen awam seperti saya. Tiada kebencian antara rakyat dan saudara jika keadilan itu tertegak. Rakyat awam bukan sahaja mahukan keadilan yang ditafsirkan oleh pihak saudara, tetapi keadilan yang dapat difahami oleh semua. Bukan sahaja adil dari segi bicaranya, tetapi hendaklah kelihatannya juga adil. Semoga Allah merahmati saudara dan tugas saudara. Diberikan rezeki yang halal. Bebas dari kezaliman dan rasuah. Kami akan bersama menyanjungi saudara! Selamat bertugas!

Mohd Asri Zainul Abidin
Mantan Mufti Perlis

Friday, December 30, 2011

"Ai shi teru ya Allah"


Ai shi teru ialah perkataan Jepun yang bermaksud, "Aku cinta padamu...". Dalam bahasa Inggeris ia disebut, "I love you", dalam bahasa Arab, "Uhibbuka" (untuk lelaki) dan "Uhibbuki" (untuk wanita), manakala di dalam bahasa Mandarin ia disebut, "Wo ai ni". Dan Perancis pula disebut, "Je t'aime". Walaupun perkataan ini berlainan sebutannya, tetapi hakikatnya ia tetap mempunyai satu maksud iaitu aku cinta padamu. Persoalannya cinta kepada siapa?
Perkataan 'Cinta' adalah perkataan yang begitu popular di mana sahaja kita berada, kerana ia bukan perkataan yang terkandung dalam kamus moden tetapi telah lama wujud sejak dijadikannya Adam dan Hawa. Begitupun cinta dalam makna yang sebenar bukanlah nafsu, tetapi kepercayaan. Orang yang percaya kepada sesuatu perkara dengan tindakan dan bukti tanpa memerlukan apa-apa syarat, itulah cinta. Oleh itu , apabila kita menyatakan cinta kita kepada Allah, maka kita akan dapat mengesan tanda-tandanya.


Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah menyebut dalam kitabnya, 'Raudhatul Muhibbin wa Nuzhatil Mushtaqin' bahawa beberapa tanda jatuh cinta yang dialami oleh kebanyakan manusia adalah;
"Banyak mengingati orang yang dicintai, membicarakan tentangnya dan sentiasa menyebut namanya..."
"Tunduk dan mengikut segala perintah orang yang dicintai dan mendahulukan segala keperluannya..."
"Memerhati kata-kata orang yang dicintai dan mendengarkannya..."
"Mencintai segala perkara yang dicintai oleh sang kekasih..."
Sekiranya diteliti, perkara yang disebut oleh Ibnu Qayyim itu memang benar. Apabila kita jatuh cinta, pasti kita membuat perkara-perkara tersebut. Dan sekiranya ia tidak ditangani dengan bijak, natijahnya akan mengundang perkara yang negatif dan mencelakakan manusia. Seorang isteri jika suami berpaling kasih pada yang lain, maka hari-hari yang berlalu terasa mendung, sesekali memanahkan petir kekecewaan, air mata tumpah bagai lelehan lahar gunung berapi, sedih bercampur dendam. Begitulah hakikat orang yang bercinta. Tidak mahu diduakan oleh sesiapa.
Sebenarnya tidak banyak perbezaan yang berlaku daripada segi prinsip apabila kita jatuh cinta kepada Allah kerana matlamat asalnya juga cinta. Ringkasnya, apabila kita jatuh cinta kepada Allah, kita pasti mengingatiNya, tunduk dan patuh pada semua perintahNya, memerhati dan menuruti segala peraturanNya dan mencintai segala perkara yang dicintai oleh Allah. Itu juga disebut antara tanda-tanda cinta kepada Allah.
Bukti Cinta Kepada Allah
Perkataan cinta adalah perkataan yang menuntut kita melaksanakan perkara yang kita ucapkan. Adakah cukup sekadar kita melafaskan perkataan cinta tanpa menunjukkan bukti kita benar-benar memaksudkannya? Pastinya tidak. Apabila kita melafazkan cinta, maka ia perlu dilaksanakan dengan perbuatan.
Sekiranya cinta kepada Allah, maka ia perlu disertai dengan bukti. Lalu bagaimana bukti itu dapat diperlihatkan?
"Sentiasa mengingati Allah berbanding mengingati manusia..."
Pasangan yang jatuh cinta sentiasa mengingati pasangannya. Hatinya tenteram dan bertaman bunga apabila terfikir mengenai sang kekasih. Begitu juga cinta kepada Allah. Manusia yang jatuh cinta dengan Allah sentiasa mengingati dan merindui Allah. Di dalam Surah Ar Ra'du ayat 28, Allah menjamin kepada manusia yang mengingatinya, "Dengan mengingati Allah, hati akan menjadi tenang...".
Ayat ini memberikan kefahaman kepada kita bahawa bila hati kita ingat dan terhubung dengan Allah, hati kita akan menjad tenang. Namun, dalam ayat lain, Allah menceritakan bahawa, "Orang yang beriman itu apabila disebut nama Allah, gementar hati mereka..." (Al Anfaal:2).
Pada kedua-dua ayat itu berlaku apa yang dikatakan sebagai "zikrullah" - mengingati Allah. Walaupun kedua-duanya berhasil zikrullah, satu ayat sebut hati menjadi tenang dan satu ayat lagi sebut hati menjadi gementar. Bagaimana boleh menjadi begitu? Apakah bila kita dengan Allah, adakala hati menjadi tenang dan adakalanya hati menjadi gementar?Sebenarnya bukanlah ia bermaksud hati orang beriman itu berubah-ubah dengan Tuhan. Hati mereka sebenarnya mempunyai dua keadaan pada masa yang sama, iaitu berkeadaan tenang dan juga berkeadaan gementar.
Yang dikatakan tenang itu ialah tenang dengan dunia, yakni hati mereka itu tidak tergugat dengan ujian kesusahan seperti kemiskinan, sakit dan cercaan manusia. Malah semua itu menjadi hiburan apabila hati sudah kuat berhubung dengan Allah Taala serta memahami maksud ujian tersebut.
Yang dikatakan gementar pula, ialah bila hati berhubung dengan Tuhan, timbul rasa cemas dengan dosa yang dilakukan kepadaNya. Rasa gementar itu juga boleh berhasil dari rasa kagum dengan kehebatan Allah Taala, setelah menyaksikan kehebatanNya mencipta alam dan cakerawala, lalu apabila ayat dibacakan kepadanya tiba-tiba hati manusia menjadi gementar. Hal ini pasti berlaku kepada orang beriman yang hatinya itu sentiasa mencintai Allah. Ketakutan bagi orang bercinta ialah putus cinta atau cinta tidak berbalas dan tidak dipedulikan.
Firman Allah Taala (bermaksud), "Sesungguhnya orang-orang berhati-hati kerana takut akan (azab) Tuhan mereka, dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Tuhan mereka (dengan sesuatu apapun), Dan orang-orang yang memberi apa yang mereka berikan sedang hati mereka gementar kerana mereka yakin akan kembali kepada Tuhan mereka". (Al Mukminun:57-60).
Dari Aisyah R.A.h berkata, "Saya bertanya kepada Rasulullah tentang ayat ini (Al Mukminun:57-60). Apakah mereka orang-orang yang minum arak dan mencuri?
Baginda S.A.W menjawab, "Tidak wahai Humairah, tetapi mereka adalah orang-orang yang berpuasa, melaksanakan solat, bersedeqah, dan pada masa yang sama hati merasa takut amalan-amalan itu tidak diterima Allah. Mereka ini adalah orang-orang yang bersegera dalam amal kebaikan".
Maka jaminan Allah kepada hati hambaNya yang mengingatiNya, rasa tenang dan rasa gementar. Dan realitinya orang bercinta akan menurut segala kemahuan sang kekasih walaupun mereka serba-serbi kekurangan pada masa itu. Ini bermakna, bukti seseorang itu mencintai Allah ialah kita mengikuti segala perintahNya dan meninggalkan segala laranganNya.
"Orang yang beriman itu kuat kecintaannya kepada Allah..." (Al Baqarah:165)
Maka, tanda orang bercinta kepada Allah ialah iman yang benar di dalam hati, iaitu mempercayaiNya dengan sesungguhnya tanpa lelah dan rungutan, tanpa ingkar dan pendustaan. Itulah cinta, cinta itu adalah percaya, bukannya nafsu.
Hakikatnya, mencintai Allah itu lebih mudah daripada mencintai manusia. Cinta manusia bersyarat, tetapi cinta Allah selamanya. Allah tidak mahukan harta kita kerana Allah pemberi rezeki. Bahkan kita yang dituntut supaya meminta sesuatu daripada Allah melalui doa. Oleh itu, tadahlah tangan kalian dan mengucapkan ai shi teru kepada Allah. Semoga dengan itu kita tergolong di kalangan hamba yang dicintai olehNya. Seorang pujangga memberitahu :
"Jika kamu berikan hatimu yang kudus kepada manusia, dia boleh melukai dan menghancurkannya. Tetapi sekiranya kamu berikan hatimu yang hancur luluh itu kepada Allah, Dia pasti akan memperbaikinya..."